Kumari... Sang Dewi Perawan
oleh Novita Joseph
1271650025
Di
pegunungan Himalaya, Nepal, tempatnya suburnya kepercayaan Hindu dan Budha
Nepal (yang berbeda dengan Buddha Tibet), yang memuja para Dewa dan Dewi,
ternyata ada Dewi yang nyata, "hidup", bernafas, yang disebut
sebagai Kumari, dalam rupa seorang anak perempuan yang belum menginjak
pubertas. Kumari bukanlah Dewi hidup yang sesungguhnya, hanya tubuh
nyatanyadipercaya sebagai perwujudan dariDewi Taleju, atau Dewi Durga (di HinduIndia).
Kata Kumari berasal dari bahasa Sansekerta Kaumarya, yang
artinya "perawan". Gadis kecil tersebut akan bertahan sebagai
perwujudan sang Dewi sampai mengalami menstruasi pertamanya, masa ketika sang
Dewi meninggalkan tubuhnya, dan sang gadis akan meneruskan hidupnya sebagai
manusia fana lagi.
Saat
ini ada beberapa Kumari di seluruh Nepal, dengan beberapa kota
memiliki lebih dari satu, namun yang paling dikenal adalah Royal
Kumari dari Kathmandu, dan dia tinggal di Kumari Ghar, sebuah istana di
pusat kota.
Pemilihan Kumari, adalah urusan yang
rumit. Menurut tradisi Vajrayana sekte Mahayana Buddhisme, anak-anak perempuan
di kelompok usia 4-7 tahun, yang berasal dari masyarakat Sakya, dan memiliki
horoskop yang sesuai,akan disaring berdasarkan 32 atribut kesempurnaan, termasuk warna
mata, bentuk gigi dan bahkan kualitas suara. Mereka kemudian diharuskan
mengikuti beberapa ritual Hindu-Buddha untuk pada akhirnya bisa ditentukan
siapa sebenarnya yang terpilih.
Setelah upacara, spirit Dewi Durga dikatakan
memasuki tubuh sang terpilih. Dia kemudian memakai pakaian dan perhiasan dari
pendahulunya, dan diberi gelar Kumari Devi, yang kemudian akandisembah di semua acara keagamaan. Dia sekarang akan hidup di sebuah
bangunan bernama 'Kumari Ghar', di kompleks Istana Hanumandhoka, Kathmandu. Ini
adalah rumah yang indah di mana sang Dewi akan tinggal dan melakukan ritual
sehari-hari, jarang ke luar istana kecuali sewaktu keluar dengan menggunakan tandu emas untuk upacara keagamaan. Bahkan, dia hampir tidak akan
berjalan sama sekali, karena kakinya saja dianggap suci, dan bahkan Raja
(sekarang Perdana Menteri sejak jatuhnya keluarga kerajaan), akan mencium
kakinya setiap tahun untuk memastikan berkat bagi negara. Para pemohon doa juga
akan berusaha mencari perkenannya, danhanya melihat sang Dewi sekilas saja dianggap
sebuah keberuntungan.
Dan
akhirnya hidup normal setelah bertahun-tahun menjadi Goddesstentulah tidak
mudah, seperti diceritakan oleh salah seorang mantan Kumari,Preeta Shakya,
sekarang berusia 16 tahun, dalam situs GlobalTime China.
Preeta
terpilih sebagai Kumari pada umur sekitar 3 tahun. Dalam beberapa
waktu kemudian Preeta mulai menganggap bahwa benar diri sesungguhnya adalah
Sang Dewi yang hidup, dan dia mulai terbiasa disembah dan dipuja. Namun
hidupnya tidak selalu menyenangkan, bagaimanapun, bisa sangat kesepian dan
serba dibatasi. Dia hanya diperbolehkan untuk meninggalkan istana tiga belas
kali dalam setahun, dan ibunya hanya bisa mengunjunginya seminggu sekali.
Ketika sedang dalam kunjungan itupun sang ibu lebih berperilaku sebagai pemuja,
bukan sebagai seorang ibu.
Meninggalkan istana setelah mengalami menstruasi
pertamanya, yang menyebabkan perannya sebagai Kumari berakhir, menjadi masa
transisi yang sangat sulit. Preeta kesusahan untuk membuat teman-teman pada
awalnya, setelah bertahun-tahun terbiasa disembah. Dia juga mungkin akan
kesulitan mencari pasangan. Takhayul lokal menyatakan bahwa suami dari seorang
Kumari mati muda, sehingga menemukan seorang suami bukan sesuatu yang
mudah.
Pemerintah Nepal rupanya menyadari kesulitan hidup para mantan Kumari, dan memberikan penghargaan berupa pensiun, seperti dilansir situsnews.com.au
Pemerintah Nepal rupanya menyadari kesulitan hidup para mantan Kumari, dan memberikan penghargaan berupa pensiun, seperti dilansir situsnews.com.au
Sepuluh mantan Kumari akan menerima
tunjangan bulanan sebesar 10.000 rupee Nepal ($ 101) dari bulan Juli selama 10
tahun ke depan, kata CEO Kota Metropolitan Kathmandu Laxman Aryal.
"Meskipun
sebagian besar Kumari berasal dari keluarga berada, mereka melewatkan masa
penting dari kehidupan mereka dan sering tertinggal di belakang dalam
masyarakat kami yang semakin kompetitif," kata Aryal.
Dewan Kota telah membuat keputusan minggu lalu sebagai bagian dari upaya untuk membantu anak-anak perempuan tersebut,yang telah begitu lama disembah dan dipuja sebagai Dewi, tetapi
kehilangan status khusus mereka setelah mereka mencapai pubertas.
Entah
sampai kapan tradisi keagamaan ini akan bertahan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar