Selasa, 07 Oktober 2014

Kumari... Sang Dewi Perawan 

oleh Novita Joseph
1271650025

Di pegunungan Himalaya, Nepal, tempatnya suburnya kepercayaan Hindu dan Budha Nepal (yang berbeda dengan Buddha Tibet), yang memuja para Dewa dan Dewi, ternyata ada Dewi yang nyata, "hidup", bernafas, yang disebut sebagai Kumari, dalam rupa seorang anak perempuan yang belum menginjak pubertas. Kumari bukanlah Dewi hidup yang sesungguhnya, hanya tubuh nyatanyadipercaya sebagai perwujudan dariDewi Taleju, atau Dewi Durga (di HinduIndia). Kata Kumari berasal dari bahasa Sansekerta Kaumarya, yang artinya "perawan".  Gadis kecil tersebut akan bertahan sebagai perwujudan sang Dewi sampai mengalami menstruasi pertamanya, masa ketika sang Dewi meninggalkan tubuhnya, dan sang gadis akan meneruskan hidupnya sebagai manusia fana lagi.
Saat ini ada beberapa Kumari di seluruh Nepal, dengan beberapa kota memiliki lebih dari satu, namun yang paling dikenal adalah Royal Kumari dari Kathmandu, dan dia tinggal di Kumari Ghar, sebuah istana di pusat kota.
Pemilihan Kumari, adalah urusan yang rumit. Menurut tradisi Vajrayana sekte Mahayana Buddhisme, anak-anak perempuan di kelompok usia 4-7 tahun, yang berasal dari masyarakat Sakya, dan memiliki horoskop yang sesuai,akan disaring berdasarkan 32 atribut kesempurnaan, termasuk warna mata, bentuk gigi dan bahkan kualitas suara. Mereka kemudian diharuskan mengikuti beberapa ritual Hindu-Buddha untuk pada akhirnya bisa ditentukan siapa sebenarnya yang terpilih.
Setelah upacara, spirit Dewi Durga dikatakan memasuki tubuh sang terpilih. Dia kemudian memakai pakaian dan perhiasan dari pendahulunya, dan diberi gelar Kumari Devi, yang kemudian akandisembah di semua acara keagamaan. Dia sekarang akan hidup di sebuah bangunan bernama 'Kumari Ghar', di kompleks Istana Hanumandhoka, Kathmandu. Ini adalah rumah yang indah di mana sang Dewi akan tinggal dan melakukan ritual sehari-hari, jarang ke luar istana kecuali sewaktu keluar dengan menggunakan tandu emas untuk upacara keagamaan. Bahkan, dia hampir tidak akan berjalan sama sekali, karena kakinya saja dianggap suci, dan bahkan Raja (sekarang Perdana Menteri sejak jatuhnya keluarga kerajaan), akan mencium kakinya setiap tahun untuk memastikan berkat bagi negara. Para pemohon doa juga akan berusaha mencari perkenannya, danhanya melihat sang Dewi sekilas saja dianggap sebuah keberuntungan.
Dan akhirnya hidup normal setelah bertahun-tahun menjadi Goddesstentulah tidak mudah, seperti diceritakan oleh salah seorang mantan Kumari,Preeta Shakya, sekarang berusia 16 tahun, dalam situs GlobalTime China.
Preeta terpilih sebagai Kumari pada umur sekitar 3 tahun. Dalam beberapa waktu kemudian Preeta mulai menganggap bahwa benar diri sesungguhnya adalah Sang Dewi yang hidup, dan dia mulai terbiasa disembah dan dipuja. Namun hidupnya tidak selalu menyenangkan, bagaimanapun, bisa sangat kesepian dan serba dibatasi. Dia hanya diperbolehkan untuk meninggalkan istana tiga belas kali dalam setahun, dan ibunya hanya bisa mengunjunginya seminggu sekali. Ketika sedang dalam kunjungan itupun sang ibu lebih berperilaku sebagai pemuja, bukan sebagai seorang ibu.
Meninggalkan istana setelah mengalami menstruasi pertamanya, yang menyebabkan perannya sebagai Kumari berakhir, menjadi masa transisi yang sangat sulit. Preeta kesusahan untuk membuat teman-teman pada awalnya, setelah bertahun-tahun terbiasa disembah. Dia juga mungkin akan kesulitan mencari pasangan. Takhayul lokal menyatakan bahwa suami dari seorang Kumari mati muda, sehingga menemukan seorang suami bukan sesuatu yang mudah.
Pemerintah Nepal rupanya menyadari kesulitan hidup para mantan Kumari, dan memberikan penghargaan berupa pensiun, seperti dilansir situs
news.com.au
Sepuluh mantan Kumari akan menerima tunjangan bulanan sebesar 10.000 rupee Nepal ($ 101) dari bulan Juli selama 10 tahun ke depan, kata CEO Kota Metropolitan Kathmandu Laxman Aryal.
"Meskipun sebagian besar Kumari berasal dari keluarga berada, mereka melewatkan masa penting dari kehidupan mereka dan sering tertinggal di belakang dalam masyarakat kami yang semakin kompetitif," kata Aryal.
Dewan Kota telah membuat keputusan minggu lalu sebagai bagian dari upaya untuk membantu anak-anak perempuan tersebut,yang telah begitu lama disembah dan dipuja sebagai Dewi, tetapi kehilangan status khusus mereka setelah mereka mencapai pubertas.

Entah sampai kapan tradisi keagamaan ini akan bertahan...Displaying image.jpeg



image.jpeg

Tidak ada komentar:

Posting Komentar